SELAMAT TINGGAL JANTUNG KORONER
Berawal di pagi hari. Selasa 23 Desember 2003, tiba-tiba dada Maxi Patty amat nyeri, sesak napas, dan berdebar-debar. Ketika itu General Manajer sebuah perusahaan di kuningan, jakarta selatan, tengah bersenam. Istirahat sejenak tak juga mengusir nyeri itu. Keringat dingin terus mengucur. Ia akhirnya dilarikan ke RS. Dokter memvonis jantung koroner dengan 3 penyumbatan di bagian kiri dan tengah masing-masing 60%, artinya 60% dari diameter pembuluh darah, sedangkan kanan 80%.
Sepekan lamanya ia harus menginap di RS Jantung Harapan Kita di Jakarta Barat. Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Ia mengingat gaya hidupnya yang mengundang penyakit jantung koroner. Selama ini pria kelahiran Ambon 57 tahun silam itu gemar menyantap makanan berlemak. Wajar jika kolestrolnya melambung hingga 280 mg per desiliter. Korestol itulah penyebab penumbatan pembuluh darah di jantung.
Untuk mengatasinya ia menjalani kateterisasi guna memperlebar pembuluh darah ke Jantung. Selang kecil dimasukan ke pembuluh darah, kemudian zat kontras disemprotkan untuk mendeteksi pembuluh darah tersumbat yang tampak ketika difoto dengan sinar X. Langkah berikutnya, operasi sebuah keharusan karena penyumbatan ada di tiga bagian itu. Namun, pihak keluarga menawar menunda operasi.
Dokter mengijinkan permintaan Patty untuk menunda operasi. Sehari sebelum 2003 berakhir, patty kembali ke RS Durensawit, Jakarta Timur. Ia membawa lima jenis obat berbahan asam semut, asam nicotinat, dan asam niacin untuk dikonsumsi sebulan. Obat itu ditelan usai makan pagi, siang dan malam.. tapi ketika obat habis dikonsumsi, sakit yang dirasakannya tk kunjung mereda. Menggerakan tubuh sedikit saja, misal ketika menggosok gigi atau mengoleskan busa sabun saat mandi, sakitnya bukan main. Apalagi ketika naik tangga, ia mesti istirahat beberapa menit setelah kaki melangkah ke anak tangga. Dada berdebar-debar diikuti rasa nyeri yang sangat. Itulah sebabnya olahraga golf pun dihentikan.
Akibat penyakit jantung, Patty yang semula kekar menjadi rapuh. Tertatih-tatih saat melangkah. Obat-obatan dari Dokter sepesialis jantung yang dikonsumsi selama sebulan, tak menghentikan penderitaannya. “Sepanjang mutu darah tak diperbaiki, hanya menunda masalah. “Ibarat air ledeng yang kotor, lsms-kelamaan akan membuat pipa mampat karena kotoran mengendap,” ujar Dokter paulus Wahyudi Hakim, dokter sekaligus pengobat komplementer memadukan meds dan herbal.
Setelah sakitnya tak berkurang, patty menerima saran dari seorang rekan yang menawarkan pengobatan herbal. Harapan kesembuhan digantungkan pada campuran ekstrak jahe merah dan madu hitam. Empat sendok ekstrak jahe merah, 2 sendok madu hitam, dan segelas air matang diaduk hingga rata. Ramuan itulah yang dikonsumsi sekaligus dengan frekuensi 3 hari sekali. Tiga bulan rutin meminum ramuan itu ternyata juga tak mengurangi nyeri dada. Harapannya kandas sudah. Ia pun menghentikan konsumsi jahe merah-madu hitam.
Pertengahan 2004 Patty pulang membawa koran bekas yang tergeletak diatas meja kerjanya. Tiba dirumah surat kabar itu diletakan begitu saja di ruang tamu. Ketika ia tengah beristirahat, istrinya membuka-buka media itu. Matanya tertuju pada pariwara virgin coconut oil (VCO) alias minyak kelapa murni. Iklan itu menyebutkan, VCO mampu mengatasi berbagi penyakit seperti diabetes melitus, hipertensi, dan jantung koroner.
Tanpa sepengetahuan Patty, istrinya menghubungi produsen VCO di yogyakarta. Ia disarankan untuk membeli VCO melalui perwakilan jakarta. Keesokan harinya ia memperoleh 2 boks VCO masing-masing terdiri atas 6 botol. Volume setiap botol 90 ml. Mulai hari itu Patty meminum minyak perawan. Usai makan malam, ia meminum 6 sendok makan VCO sekaligus. Hari berikutnya, 5 sendok makan. “saya ingin sekali cepat sembuh , sehingga dosis saya tingkatkan,” ujar Patty.
Dosis kosmsumsi hari berikutnya 2 sendok maka dengan frekuensi 3 kali sehari. Patty hanya mengkonsusi VCO, tak ada tambahan bahan lain apa pun jenisnya. Sebulan kemudian, kelahiran 6 juli 1949 itu merasakan perubahan. “ Saya dapat berjalan 100 meter tanpa rasa sesak,” kata kakek seorang cucu itu. Malahan sebulan berselang pada agustus 2004 Patty kembali dapat bermain Golf 18 hole.”luar biasa, bisa bermain Glf lagi,” katanya.
Pada oktoberr 2004 Maxi Patty ke RS dan dicek oleh dokter yang dulu memeriksanya. Hasil laboraturium amat memuaskan. Penyumbatan pembuluh darah tak ditemukan lagi. Kadar kolestrol turun menjadi 180 miligram per desiliter, kadar trigliserida 95 (sebelumnya 120), dan kadar asam urat 7(9). Dokter menuturkan, “Bagus ini. Nanti obatnya diminum lagi ya,” katanya seperti diulangi Patty.
Mendengar penuturan dokter, patty mengangguk kecil sembari tersenyum. Ia enggan berterus terang, kesembuhan penyakitnya ditopang oleh konsumsi VCO. Bukan obat yang diresepkan dokter. Saat itu dokter juga menyerahkan resep, tapi tak ditukar dengan obat di apotek. Ia memasukan ke dalam kantung dan segera pulang. Ayah 1 itu lebih memilih VCO sebagai sarana penyembuhan penyakit yang dideritanya.
Kasus yang dialami Patty termasuk penyakit jantung didapat, bukan bawaan. Prevalensi penyakit jantung bawaan amat kecil, hanya 0.08%. pria memiliki resiko pada usia 45 tahun ke atas; perempuan, setelah 55 tahun. “Jika pria terkena serangan jantung pada usia kurang dari 55 tahun dan wanita terserang jantung pada umur kurang dari 65 tahun, anak-anaknya terkena resiko keluarga penderita penyakit jantung,” ujar dr Budi.
Sumber : Majalah Trubus
Berawal di pagi hari. Selasa 23 Desember 2003, tiba-tiba dada Maxi Patty amat nyeri, sesak napas, dan berdebar-debar. Ketika itu General Manajer sebuah perusahaan di kuningan, jakarta selatan, tengah bersenam. Istirahat sejenak tak juga mengusir nyeri itu. Keringat dingin terus mengucur. Ia akhirnya dilarikan ke RS. Dokter memvonis jantung koroner dengan 3 penyumbatan di bagian kiri dan tengah masing-masing 60%, artinya 60% dari diameter pembuluh darah, sedangkan kanan 80%.Sepekan lamanya ia harus menginap di RS Jantung Harapan Kita di Jakarta Barat. Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Ia mengingat gaya hidupnya yang mengundang penyakit jantung koroner. Selama ini pria kelahiran Ambon 57 tahun silam itu gemar menyantap makanan berlemak. Wajar jika kolestrolnya melambung hingga 280 mg per desiliter. Korestol itulah penyebab penumbatan pembuluh darah di jantung.
Untuk mengatasinya ia menjalani kateterisasi guna memperlebar pembuluh darah ke Jantung. Selang kecil dimasukan ke pembuluh darah, kemudian zat kontras disemprotkan untuk mendeteksi pembuluh darah tersumbat yang tampak ketika difoto dengan sinar X. Langkah berikutnya, operasi sebuah keharusan karena penyumbatan ada di tiga bagian itu. Namun, pihak keluarga menawar menunda operasi.
Dokter mengijinkan permintaan Patty untuk menunda operasi. Sehari sebelum 2003 berakhir, patty kembali ke RS Durensawit, Jakarta Timur. Ia membawa lima jenis obat berbahan asam semut, asam nicotinat, dan asam niacin untuk dikonsumsi sebulan. Obat itu ditelan usai makan pagi, siang dan malam.. tapi ketika obat habis dikonsumsi, sakit yang dirasakannya tk kunjung mereda. Menggerakan tubuh sedikit saja, misal ketika menggosok gigi atau mengoleskan busa sabun saat mandi, sakitnya bukan main. Apalagi ketika naik tangga, ia mesti istirahat beberapa menit setelah kaki melangkah ke anak tangga. Dada berdebar-debar diikuti rasa nyeri yang sangat. Itulah sebabnya olahraga golf pun dihentikan.
Akibat penyakit jantung, Patty yang semula kekar menjadi rapuh. Tertatih-tatih saat melangkah. Obat-obatan dari Dokter sepesialis jantung yang dikonsumsi selama sebulan, tak menghentikan penderitaannya. “Sepanjang mutu darah tak diperbaiki, hanya menunda masalah. “Ibarat air ledeng yang kotor, lsms-kelamaan akan membuat pipa mampat karena kotoran mengendap,” ujar Dokter paulus Wahyudi Hakim, dokter sekaligus pengobat komplementer memadukan meds dan herbal.
Setelah sakitnya tak berkurang, patty menerima saran dari seorang rekan yang menawarkan pengobatan herbal. Harapan kesembuhan digantungkan pada campuran ekstrak jahe merah dan madu hitam. Empat sendok ekstrak jahe merah, 2 sendok madu hitam, dan segelas air matang diaduk hingga rata. Ramuan itulah yang dikonsumsi sekaligus dengan frekuensi 3 hari sekali. Tiga bulan rutin meminum ramuan itu ternyata juga tak mengurangi nyeri dada. Harapannya kandas sudah. Ia pun menghentikan konsumsi jahe merah-madu hitam.
Pertengahan 2004 Patty pulang membawa koran bekas yang tergeletak diatas meja kerjanya. Tiba dirumah surat kabar itu diletakan begitu saja di ruang tamu. Ketika ia tengah beristirahat, istrinya membuka-buka media itu. Matanya tertuju pada pariwara virgin coconut oil (VCO) alias minyak kelapa murni. Iklan itu menyebutkan, VCO mampu mengatasi berbagi penyakit seperti diabetes melitus, hipertensi, dan jantung koroner.
Tanpa sepengetahuan Patty, istrinya menghubungi produsen VCO di yogyakarta. Ia disarankan untuk membeli VCO melalui perwakilan jakarta. Keesokan harinya ia memperoleh 2 boks VCO masing-masing terdiri atas 6 botol. Volume setiap botol 90 ml. Mulai hari itu Patty meminum minyak perawan. Usai makan malam, ia meminum 6 sendok makan VCO sekaligus. Hari berikutnya, 5 sendok makan. “saya ingin sekali cepat sembuh , sehingga dosis saya tingkatkan,” ujar Patty.
Dosis kosmsumsi hari berikutnya 2 sendok maka dengan frekuensi 3 kali sehari. Patty hanya mengkonsusi VCO, tak ada tambahan bahan lain apa pun jenisnya. Sebulan kemudian, kelahiran 6 juli 1949 itu merasakan perubahan. “ Saya dapat berjalan 100 meter tanpa rasa sesak,” kata kakek seorang cucu itu. Malahan sebulan berselang pada agustus 2004 Patty kembali dapat bermain Golf 18 hole.”luar biasa, bisa bermain Glf lagi,” katanya.
Pada oktoberr 2004 Maxi Patty ke RS dan dicek oleh dokter yang dulu memeriksanya. Hasil laboraturium amat memuaskan. Penyumbatan pembuluh darah tak ditemukan lagi. Kadar kolestrol turun menjadi 180 miligram per desiliter, kadar trigliserida 95 (sebelumnya 120), dan kadar asam urat 7(9). Dokter menuturkan, “Bagus ini. Nanti obatnya diminum lagi ya,” katanya seperti diulangi Patty.
Mendengar penuturan dokter, patty mengangguk kecil sembari tersenyum. Ia enggan berterus terang, kesembuhan penyakitnya ditopang oleh konsumsi VCO. Bukan obat yang diresepkan dokter. Saat itu dokter juga menyerahkan resep, tapi tak ditukar dengan obat di apotek. Ia memasukan ke dalam kantung dan segera pulang. Ayah 1 itu lebih memilih VCO sebagai sarana penyembuhan penyakit yang dideritanya.
Kasus yang dialami Patty termasuk penyakit jantung didapat, bukan bawaan. Prevalensi penyakit jantung bawaan amat kecil, hanya 0.08%. pria memiliki resiko pada usia 45 tahun ke atas; perempuan, setelah 55 tahun. “Jika pria terkena serangan jantung pada usia kurang dari 55 tahun dan wanita terserang jantung pada umur kurang dari 65 tahun, anak-anaknya terkena resiko keluarga penderita penyakit jantung,” ujar dr Budi.
Sumber : Majalah Trubus